Lokasi / Beranda / Kesehatan / Usia Produktif Dominasi Kasus HIV di Sidoarjo, Dinkes Catat 3.767 ODHIV Berusia 25-40 Tahun
Usia Produktif Dominasi Kasus HIV di Sidoarjo, Dinkes Catat 3.767 ODHIV Berusia 25-40 Tahun

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mencatat kelompok usia 25-40 tahun menjadi penyumbang terbesar kasus HIV di wilayah tersebut. Dari total 7.182 orang dengan HIV (ODHIV) yang telah ditemukan, sebanyak 3.767 orang berada pada rentang usia produktif.
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Kabupaten Sidoarjo, dr. Rahmi Alfiyanti Nisaul Khoirot, menyebut, dari data menunjukkan bahwa sebanyak 4.518 ODHIV merupakan warga Kabupaten Sidoarjo, sedangkan 2.664 lainnya berasal dari luar daerah yang menjalani layanan kesehatan di kabupaten tersebut.
Selain kelompok usia produktif, Dinkes mencatat 999 kasus pada usia 18-24 tahun, 2.240 kasus pada usia di atas 50 tahun, 116 kasus usia 0-10 tahun, dan 60 kasus usia 11-17 tahun.
"Kalau dilihat dari kelompok umur, paling tinggi memang usia 25 sampai 40 tahun. Jumlahnya mencapai 3.767 orang. Ini merupakan kelompok usia produktif," kata Rahmi, Jumat (17/7/2026).
Selain berdasarkan kelompok umur, Dinkes mencatat kasus HIV masih didominasi laki-laki. Sebanyak 4.593 ODHIV berjenis kelamin laki-laki, sedangkan perempuan mencapai 2.589 orang. Dari seluruh kasus yang ditemukan, sebanyak 4.782 ODHIV hingga kini nyatakan masih hidup.
"Yang menjadi perhatian kami adalah kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Terapi ARV harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan agar kondisi ODHIV tetap terkontrol," ujar Rahmi.
Dinkes mencatat 3.064 ODHIV masih menjalani terapi antiretroviral (ARV). Sementara itu, 1.708 orang masuk kategori lost to follow up (LFU) atau tidak lagi melanjutkan pemantauan dan pengobatan secara rutin.
Selain itu, sebanyak 1.718 ODHIV telah meninggal dunia dan 692 lainnya dirujuk ke fasilitas kesehatan lain untuk melanjutkan pelayanan.
Rahmi menilai, kepatuhan menjalani terapi menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kualitas hidup ODHIV sekaligus menekan risiko penularan HIV.
"Terapi ARV harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan agar kondisi ODHIV tetap terkontrol," katanya.
Berdasarkan kelompok populasi yang teridentifikasi, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) menjadi kelompok terbanyak dengan 1.193 kasus.
Disusul pelanggan penjaja seksual sebanyak 535 orang, pasien tuberkulosis (TB) 468 orang, pasangan ODHIV 445 orang, pasangan berisiko tinggi 397 orang, wanita pekerja seks (WPS) 204 orang, dan ibu hamil 200 orang.
Dinkes juga mencatat 90 warga binaan pemasyarakatan, 73 waria, 51 pengguna narkotika suntik, masing-masing 35 calon pengantin dan anak ODHIV, 29 pasien infeksi menular seksual, serta enam pasien hepatitis.
"Selain itu, masih ada sebanyak 3.427 kasus lainnya belum teridentifikasi berdasarkan kelompok populasi risiko," ungkapnya.
Rahmi mengatakan, Dinkes terus mendorong deteksi dini pada kelompok berisiko agar kasus dapat ditemukan lebih cepat dan segera mendapat penanganan. Upaya tersebut diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kepatuhan menjalani terapi ARV sebagai bagian dari pengendalian HIV di Kabupaten Sidoarjo.
Sebelumnya — Bahan Bakar Minyak Sempat Langka di Medan, Elnusa Petrofin Kerahkan 176 Mobil Tangki
Selanjutnya — 6 Contoh Jawaban Inspirasi Baru dari Tindak Lanjut PMM
Artikel Terkait
- Prabowo: Pakar Ramalkan RI Negara Ke-4 Terkaya di Dunia Tahun 2045
- Cak Imin Usul Ketum PBNU yang Fresh, Gus Ipul: Bisa Jadi Masukan untuk Muktamar
- Prabowo Buka Kemungkinan Pangkas Anggaran TNI-Polri untuk atasi Kemiskinan
- Tiap Tahun Jutaan Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Apa Alasannya?
- Polisi: Jangan Lagi Gunakan Pikap untuk Angkut Penumpang
- APINDO: ION, Solusi Percepat Digitalisasi UMKM
- AI Akan Bantu Peneliti, Bukan Menggantikan Perannya
- Hasil Japan Open 2026: Ubed Wujudkan Keinginan Hadapi Anders Antonsen
